hidup penuh dengan pengorbanan

betapa indahnya pemandangan kota madina

Jumat, 22 April 2011

BERAWAL DARI 11MARET


{sekarang bagiku tgl 11 jadi 1-.}

hari-hari kulalui tak seindah seperti dulu
minggu demi minggu ku jalani dengan kesedihanku
rasanya diri ini ingin menyusul ke alammu
kesetiaan,pengorban dan rasa kasih sayangmu
yang tak bisa terlupakan dalam hidupku

11 maret awal yang tak terlupakan dalam hidupku
di hari ulang tahunmu,,, dan hari kepergianmu
seandainya hari itu aku menuruti semua perkataanmu
mungkin ,,,,,,,, ,,,, 11 maret bukan awal dari 
penderitaanku                                                                                                               sulit rasanya tuk memaafkan diri ini
                                                            

sekarang kau telah pergi
meninggalkan semua  orang-orang yang menyayangimu
betapa sedihnya  kami
betapa terpukulnya diri kami

maafkan aku yang belum sempat membahagiakan dirimu
yang belum sempat membalas semua kebaikanmu

tapi sudahlah ...... smua telah terjadi
kesedihan dan air mataku mungkin tak akan bisa mengembalikan dirimu ke dunia ini
aku ihklas menerima semua kenyataan ini
karma aku gak bisa melawan takdir
semua telah terprogram di mega server ALLAH SWT

selamat jalan ANGGI PURNAMA SARI BATUBARA
aku akan meneruskan semua cita-citamu
untuk membahagiakan kedua orang tuamu
menyayangi mereka seperti aku menyayangi kedua orang tuaku
dan aku tak akan pernah melupakan semua kenangan-kenangan saat bersamamu

mudah-mudahan.....  semua amal,kebaikan dan kemurahan hatimu
diterima oleh ALLAH SUBHANA WATAALA     AMIN,,,,,,,,,,,,

sahabat-sahabatku di fb mohon doanya ya,
mudah-mudahan dia diterima di sisi ALLAH. SWT.      amin,,,,,,

Selasa, 19 April 2011

JERITAN ANAK JALANAN




Di kolong-kolong jembatan aku..
Bersenandung mengharap belas kasihmu..
Pandanganku yang kian hampa..
Sesuap nasi pun tak kunjung tiba..
Melihat mu aku tak peduli..
Bukan wakil rakyat tikus berdasi..
Aku memang mlarat..
Bukan seperti tikus keparat..
Yang doyan uang rakyat..
Haus harta bak lintah darat..
Masih terdengar jeritan dan tangisan..
Dari anak kolong jembatan..
Kau butakan matamu..
Kau tulikan telingamu..
Takut kehilangan harta itu sifatmu..
Takut kehilangan kehormatan pun sifatmu..
Kau lebih rela korbankan rakyat..
Hanya demi se onggok martabat..
Kau picik..
Kau pun licik..
Di kolong jembatan aku..
Di jalanan kukais keberuntunganku..
Kau tak datang aku bangga..
Tak mengenal mu pun aku leg